TUJUAN, METODE, DAN OUTPUT SERTA OUTCOME BERPUASA

MUHYAMMAD SOLEH

Assalamualaikum wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim.

Innalhamda lillah. Nahmaduhu wanastainuhu wanastaghfiruh. Wanaudzubillahi min sururi anfusina wamin sayyiati a’malina. Mayyahdillahu fala mudillalah, wamayyudlil fala hadialah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah. Asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluh. Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad, waala alihi waashabihi wamawwalah, waman tabiahu ila yaumil qiamah.

Sesungguhnya segala puji bagi Allah swt. Kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah swt dari kejahatan diri dan keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah swt maka tiada orang yang bisa menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tiada orang yang bisa memberikan hidayah kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah swt Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah swt melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau, keluarga dan sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari kiamat.

  1. PENDAHULUAN

Kita bersyukur karena telah datang kembali bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan maghfiroh. Kita sambut dengan ucapan:, marhaban ya Ramadhan al Mubarrak. Kita berharap termasuk orang-orang yang akan memasuki surga melalui pintu khusus, Ar-Rayyan, karena kita berpuasa.

Dalam renungan di kesunyian, semakin terang cahaya yang menjawab pertanyaan anak kepada bapaknya: Buat apa berlapar-lapar puasa?  Kiranya, puasa itu ada tujuan, dan ada metode, serta jelas sekali output dan outcomenya. Tujuan berpuasa adalah agar kita bertaqwa kepada Allah swt, metodenya adalah imanan wahtisaban, outputnya adalah ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbihi (ampunan atas dosa), dan tashihhu (sehat), outcomenya adalah mencapai  nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang) yang diridhoi Allah masuk kesurga-Nya,  melalui pintu  khusus Ar-Rayyan.

Tulisan ini ingin membahas tujuan, metode, dan output serta outcome itu dengan pemodelan / bahasa grafik: umur vs amal.  Tujuan makalah ini adalah untuk menasehati diri saya sendiri agar mulai membermaknakan hidup sesuai dengan desain/rencana Allah swt. Dimaksudkan juga mengajak sahabat-sahabat seiman, sehati dan sepikiran untuk melangkah bersama menuju ridho Allah dengan cara membermaknakan hidup ini.

  1. BUAT APA BERLAPAR-LAPAR PUASA?

Ada anak bertanya pada papanya, buat apa berlapar lapar puasa? Sungguh pernyataan Taufik Ismail dan Bimbo ini menyentuh sanubari, bukan saja anak, tetapi kita semua. Hanya saja kita tidak puas kalau jawabannya, ‘kita puasa supaya ada lebaran, pakai baju baru’. Atau ‘supaya kita sehat, mengistirahatkan perut kita yang letih meremas makanan setiap jamnya’.

Jawaban bagi kita seharusnya “karena ada perintah Allah yang menciptakan kita”.  Pada awal penciptaan,  kita telah bersumpah, ketika Allah bertanya: “alastu birabbikum?”, kita menjawab, “Bala syahidna” (QS al-A’raf 172).  Jadi berpuasa dan ibadah lainnya, hakikatnya adalah komitmen kita pada sumpah itu. Perintah itu adalah  QS al-Baqarah:183.

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Perhatikanlah, perintah itu sungguh disampaikan hanya kepada yang beriman saja yakni kita yang yakin akan adanya Allah swt, adanya pertemuan pertama kita dengan Allah ketika ruh itu ditiupkan, adanya dialog “alastu birobbikum” dan janji kita “bala syahidna”, dan kita yakin akan kembali kepada-Nya dengan membawa amal bukti komitmen kita terhadap janji itu. Jadi bagi yang tidak beriman, tidak perlulah puasa itu. Mari kita bahas secara logika matematika. Implikasi awal: Jika ia beriman maka ia berpuasa. Misalkan ‘ia beriman’ = p.  ‘ia berpuasa’ = q. ‘Jika ia beriman maka ia berpuasa’ dilambangkan    p         q.

Dalam matematika ada nilai kebenaran yang tertera dalam tabel berikut:

p q p         q KASUS
B B B 1
B S S 2
S B B 3
S S B 4

Kasus 1. Ia beriman maka ia puasa. Bernilai benar.

Kasus 2. Ia beriman maka ia tidak puasa. Bernilai salah.

Kasus 3. Ia tidak beriman maka ia puasa. Bernilai benar.

Kasus 4. Ia tidak beriman maka ia tidak puasa. Bernilai benar.

Perhatikan kasus 2. Ia beriman maka ia tidak puasa. Ini salah.

Kasus 3 dan 4. Ia tidak beriman, maka ia puasa atau tidak, ya tidak disalahkan, terserah.

Mari kita lihat kontra posisinya:  p            q kontra posisinya adalah  ῀ q          ῀ p

Ia beriman maka ia berpuasa. Kontra posisinya, ia tidak berpuasa maka ia tidak beriman.

Kita lihat tabel kebenarannya.

 

p q p q p         q   ῀ q          ῀ p
B B S S B B
B S S B S S
S B B S B B
S S B B B B

Ternyata nilai kebenaran kolom (5) sama dengan nilai kebenaran kolom (6).

p      q ≡    ̃q      ῀ p.     Dengan kata lain ‘Ia beriman maka ia puasa’  identik dengan        ‘ia tidak puasa maka ia tidak beriman’. Itulah logika matematika. Wallahu a’lam. Allah yang lebih mengetahui, karena ‘iman’ bukanlah  konsep yang dapat dinilai manusia.

 

Perhatikan pula, perintah itu disampaikan penuh kasih sayang, dengan ungkapan, “sebagaimana telah kami wajibkan kepada orang-orang sebelum kamu”. Sentuhan kasih sayang ini, seolah-olah ingin meluruhkan prasangka kita bahwa puasa itu sebagai beban bagi umat Muhammad saw saja, dan Allah juga menepis prasangka ‘sebagai beban’ itu dengan melanjutkan ungkapannya “agar kamu bertaqwa”. Jadi ada tujuannya. Orang bertaqwa disebut muttaqin, dan sebutan muttaqin itu dijanjikan sebagai ahli surga yang tak terkirakan nikmatnya. Sungguh Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang. Jadi tujuan berpuasa adalah agar kita menjadi muttaqin, ahli surga. Puasa itu (bahkan semua ibadah) untuk kita bukan untuk Allah swt. Bahkan Allah begitu sayangnya kepada yang berpuasa, sehingga DIA menyatakan “Aku sendiri (langsung) yang akan memberikan pahalanya”. Demikian juga shalat begitu utamanya, sehingga DIA sendiri (langsung) yang mentitahkannya. Betapa nikmatnya shalat dan puasa.

  1. IMANAN WAHTISABAN

Setelah jelas tujuannya, lalu Allah melalui Rasul-Nya menjelaskan metodenya agar puasa itu mencapai tujuan. Metode itu adalah imanan wahtisaban.

Imanan artinya puasa didasarkan iman seperti yang telah diuraikan terdahulu, yakni meyakini adanya perintah Allah swt, meyakini perintah itu karena kasih sayang Allah swt, meyakini perintah itu bertujuan mulia dan meyakini ada ganjarannya: pahala bila dikerjakan atau dosa bila ditinggalkan. Imanan juga meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mengawasi, Maha Mendengar, Maha Menghitung, Maha Bersyukur, Maha Perkasa.  Dengan iman ini tumbuhlah rasa ikhlas, rasa disayangi (ketika kita puasa), sekaligus rasa takut, dan rasa malu (ketika kita lalai menjaga hal hal yang membatalkan pahala puasa).

Wahtisaban artinya penuh perhitungan (matematis) dalam arti berhati-hati benar untuk tepat mencapai tujuan (taqwa), tidak batal atau tidak terhapus pahalanya. Batal kalau melanggar syarat dan rukunnya, terhapus kalau tidak terjaga anggota tubuhnya (mulut, mata, telinga, hidung, tangan, kaki), pikiran, emosi dan hati dari hal-hal yang menyerongkan dari arti taqwa.

Pengibaratan taqwa seperti yang dinyatakan oleh sahabat Nabi, ketika Umar ra bertanya “apa artinya taqwa?”. Dia balik bertanya, “Apakah yang kamu lakukan jika berjalan di jalan yang penuh onak dan duri”. Maka Umar ra. Menjawab “Aku harus berhati-hati, agar tidak menginjak onak dan duri itu”.  Sahabat tadi menegaskan itulah taqwa.  Maka bertaqwa artinya berhati-hati dengan tubuh, pikiran, emosi dan hati kita agar tidak melalaikan kewajiban dan tidak melanggar larangan seperti kekufuran (ingkar), kemunafikan (dusta), kenistaan (mengumpat), keharaman dan kemakruhan (pandangan, dan gosip), kesubhatan (keragu-raguan), dan kemubahan (tidak berlebihan).

Rasulullah mengingatkan dengan sabdanya, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apapun kecuali lapar dan haus”.

  1. OUT PUT DAN OUTCOME DARI PUASA

Output atau hasil langsung dari puasa adalah kegembiraan. Ada kegembiraan ketika berbuka, ada kegembiraan ketika telah sampai Iedul Fitri. Kegembiraan disini dalam arti jiwa (merasa diridhoi Allah). Output lainnya adalah kesehatan, seperti yang disabdakan Rasulullah, “berpuasalah kamu, niscaya kamu sehat”. Ilmu pengetahuan pun membuktikan kebenaran ini. Output yang uchrowi adalah terhapusnya dosa, dan mendapat ridho Allah.

Outcome (dampak jangka panjang) adalah terbiasa mengendalikan diri seperti ketika sedang berpuasa. Anggota tubuh kita terkendali, pikiran kita terkendali, emosi kita terkendali, hati kita terkendali. Bila kita mampu memelihara kebiasaan baik ini, maka jiwa pun menjadi tenang, dan insya Allah kita sampai pada kegembiraan ketiga yaitu berjumpa dengan Allah swt, karena DIA sendiri yang akan memberikan pahalanya dan ditunjukinya pintu khusus masuk ke surga (Ar-Rayyan). Outcome secara horisontal adalah terbinanya rasa simpati, dan empati kepada sesama makhluk yang berkekurangan. Jiwa sosial kita, dan dorongan untuk bersedekah semakin kuat. Dampak ini turut meningkatkan kesejahteraan bangsa.

  1. PENUTUP

Ramadhan adalah bulan suci, marilah kita masuki dengan hati yang suci.  Marilah kita membersihkan diri dengan saling memaafkan atas kesalahan-kesalahan kita dalam bergaul selama ini.  Kita lanjutkan dengan membersihkan jiwa kita atas dosa-dosa kita. Tidak ada yang lebih layak diucapkan, selain memasrahkan diri kepada Allah dengan berdoa:

Ya. Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Muhaimin, Ya Alim, Ya Ghaffar, Ya Thawab, Ya Razzaq, Ya Qawwiy, Ya Aziz. Dengan nama-MU aku berdoa. Ya Allah.

Engkau Maha Pengasih, Maha Penyayang. Aku merasakan betapa besar kasih sayang-Mu, betapa banyak nikmat yang kau berikan kepada kami, Engkau tanamkan rasa syukur di hati kami . Maka kami bersyukur atas semua nikmat itu. Namun Engkau Maha Mengetahui segala perbuatan kami. Banyak sekali perbuatan kami yang tidak sesuai dengan ajaran-Mu, tidak menuruti perintah-MU, dan melanggar larangan-MU, Namun Engkau Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Maha Penerima Tobat. Maafkanlah segala kesalahan kami, ampunilah segala dosa kami, terimalah tobat kami. Mampukanlah kami bertobat yang sebenar-benarnya tobat.

Engkau Maha Pemelihara, peliharalah kami sehingga kami selalu berada dalam jalan lurus-Mu, tidak menyimpang akibat godaan setan, dan tidak terjadi hal-hal buruk akibat perbuatan kami. Engkau Pemberi Pengetahuan, maka berilah kami pengetahuan untuk membedakan mana yang hak dan mana yang bathil. Engkau Pemberi Kekuatan, maka berilah kami kekuatan, untuk dapat melaksanakan yang hak  dan menjauhkan yang bathil.

Engkau Pemberi Rezeki, berilah kami rezeki untuk kami nafkahkan di jalan-Mu. Engkau Pemberi Kesehatan, maka berilah kami kesehatan sehingga kami dapat berbakti kepada-MU.

Engkau Maha Kuat dan Maha Perkasa. Kami sangat takut akan murka-Mu, namun kami mengetahui, rahmat-Mu mendahului murka-Mu. Maka kami mohonkan rahmat-Mu. Dengan rahmat-Mu, ridhoilah hidup kami, ampunilah dosa kami, kalau sampai akhir hayat kami, akhirilah dengan khusnul khotimah.  Masukkanlah kami ke surga-Mu, pertemukan kami dengan nabi-Mu, Nabi Muhammad saw yang kami sangat mencintainya, izinkan kami memandang wajah-Mu di surga sebagaimana yang Engkau janjikan. Hanya pada-Mu kami menyembah, dan hanya pada-MU kami mohon pertolongan. Kami bersaksi, tiada tuhan yang wajib disembah, selain Engkau, dan kami bersaksi, nabi Muhammad saw adalah rasul-Mu yang terakhir. Subhanaka Rabbika Rabbil Izzati ama yasifun, wassalamun alal mursalin, walhamdulillah rabbil alamin. Amin. Ya Rabbal Alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *