PUASA:

 EMPAT KEGEMBIRAAN DALAM TIGA DIMENSI PERSONAL MANUSIA

MUHAMMAD SOLEH

Pengantar

Dalam rangka menyambut kehadiran bulan Ramadhan, kita dianjurkan merasa bergembira. Sebagai ungkapan kegembiraanku, aku akan membahas empat  kegembiraan ditinjau dari             tiga  dimensi personal manusia.

 Empat kegembiraan itu adalah: ketika menyambut datangnya Ramadhan, ketika berbuka puasa, ketika mengakhiri puasa sebulan Ramadhan, dan ketika berjumpa dengan Rabb pencipta kita. Sedangkan tiga dimensi personal manusia adalah                                        intra personal, inter personal dan religius spiritual.

Terima kasih Tuhanku, atas nikmat kegembiraan ini.

 

Part 2 of 4

  1. RELASI ANTARA 4 KEGEMBIRAAN DAN 3 DIMENSI PERSONAL MANUSIA.

Matematika mendefinisikan relasi ini sebagai pasangan berurutan (k,d) dengan k anggota K={4 Kegembiraan} dan d anggota D={3 Dimensi Personal}. Marilah kita bahas satu persatu.

  1. Kegembiraan Menyambut Kedatangan Ramadhan Ditinjau Dari Dimensi Intra Personal (k1,d1)

Kegembiraan ini dapat muncul jika intra personal kita memiliki iman dan ilmu. Iman artinya yakin bahwa apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasulullah benar adanya. Bagaimana kita tidak gembira, Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang bergembira datangnya bulan ramadhan, diharamkan Allah jasadnya menyentuh api neraka. (H.R. al-Nasa’i).

Iman juga meyakini bahwa diri kita sebenarnya fitrah (suci). Karena pengaruh kehidupan dunia, fitrah kita banyak terganggu, dan ia merindukan kemurnian kembali. Kemurnian itu bisa didapat dengan berpuasa. Maka salah satu bagian diri kita yang bergembira adalah kalbu kita, tempat tersimpannya warisan Asmaul Husna.

Ilmu kita tentang hakikat dan manfaat puasa, juga mendorong kita untuk bergembira dengan datangnya Ramadhan. Rasulullah memberi isyarat ini dengan sabdanya:

Kalaulah seandainya umatku tahu keutamaan bulan puasa, tentu mereka akan meminta supaya bulan yang ada dijadikan puasa selamanya… (H.R. Ibn Majah).

Ternyata ilmu pengetahuan telah mengungkap hikmah  puasa bagi manusia, khususnya bagi kesehatan jasmani dan jiwa kita.

Bagi kesehatan jasmani kita,  hikmah berpuasa, antara lain:

  1. Merilekskan tubuh dan memperbaiki syarafnya;
  2. Menyerap zat-zat yang mengendap di usus. Pengendapan dalam jangka waktu yang lama, mengakibatkan perubahan endapan itu menjadi kotoran yang beracun;
  3. Memperbaiki fungsi pencernaan dan penyerapan;
  4. Mengembalikan vitalitas organ pembuangan dan memperbaiki fungsinya untuk membersihkan tubuh, yang mengakibatkan terkontrolnya stabilitas dalam darah dan berbagai cairan dalam tubuh;
  5. Mengurai zat-zat yang berlebihan dan endapan endapan di dalam jaringan yang sakit;
  6. Mengembalikan keremajaan serta vitalitas sel sel dan berbagai jaringan dalam tubuh;
  7. Menguatkan indera dan meningkatkan IQ;
  8. Mempercantik dan membersihkan kulit. (Suhadi,M. 2014)

Bagi kesehatan jiwa kita, hikmah berpuasa, antara lain:

  1. Menjaga keseimbangan emosi diri;
  2. Mengendalikan kehendak diri;
  3. Meningkatkan kecerdasan akal; dan
  4. Meningkatkan keimanan / kedekatan dengan Rabb kita.
  1. Kegembiraan Menyambut Kedatangan Ramadhan Ditinjau Dari Dimensi Inter Personal (k1,d2)

Kegembiraan ini juga muncul jika inter personal kita memiliki iman dan ilmu. Iman kita meyakini bahwa kita diciptakan dalam berbagai suku, dengan tujuan agar saling mengenal, dan yang paling baik dari kita adalah yang paling bertaqwa.  Allah swt berfirman dalam QS Al Hujuraat:13,

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dengan keyakinan ini, kita bergembira dengan datangnya Ramadhan karena dalam bulan Ramadhan kita akan banyak berjamaah shalat Tarawih, dan berlomba dalam kebaikan.

Secara keilmuan, kita juga merasa gembira dengan datangnya Ramadhan, karena dalam bulan Ramadhan akan banyak terdapat kajian-kajian masalah dunia akhirat.

Secara perasaan, kita juga merasa terharu, karena kita diingatkan akan saudara-saudara kita yang kehidupannya di bawah standar. Kita akan merasakan lapar seperti mereka.

  1. Kegembiraan Menyambut Kedatangan Ramadhan Ditinjau Dari Dimensi Religius Spiritual (k1,d3)

Kegembiraan ini memang yang paling nyata, karena  terdorong oleh kalbu yang religius. Di bulan Ramadhan ini, kalbu kita merasa semakin dekat dengan Allah swt. Kalbu kita mendominasi raga kita yang kita rem perannya yang dikendalikan nafsu. Kegembiraan ini juga muncul karena meyakini adanya reward (pahala), jika kita berhasil mengutamakan perintah Allah swt daripada mengikuti bujukan hawa nafsu.

  1. Kegembiraan Ketika Berbuka Puasa Ditinjau Dari Dimensi Intra personal (k2, d1)

Kegembiraan ini muncul karena adanya iman dan ilmu. Iman kita meyakini, bahwa dengan telah terpenuhi kewajiban berpuasa di hari itu, maka manfaat bagi jasmani dan jiwa kita mulai ada. Kesehatan kita mulai pulih, dan kita dapat memenuhi lagi kebutuhan jasmani dengan makan dan minum yang sewajarnya.  Jiwa kita bersyukur kepada Allah atas rezeki hari itu, dan merasa semakin dekat dengan Allah sambil berharap anugerah  rezeki berikutnya.

Ilmu kita juga, mengakui perlunya organ tubuh kita beristirahat dalam jangka waktu tertentu, dan sekarang tiba waktunya diisi kembali dengan sewajarnya. Ilmu kita memahami kadar sewajarnya, dan nafsu kita tak kuat lagi memaksa diri untuk seenaknya.

  1. Kegembiraan Ketika Berbuka Puasa Ditinjau Dari Dimensi Inter Personal (k2, d2)

Betapa gembiranya hati kita jika kita berbuka bersama keluarga, bersama keluarga besar, bersama lingkungan handai taulan, atau di masjid. Lebih bergembira lagi jika kita menyelenggarakan ta’jil (makanan berbuka) untuk orang yang sedang ibnus sabil (musafir), atau anak-anak yatim, para lansia, dan sebagainya.

  1. Kegembiraan Ketika Berbuka Puasa Ditinjau Dari Dimensi Religius Spiritual (k2, d3)

Dalam berbuka itu, kita mensyukuri nikmat Allah yang telah memberikan rezeki di dunia berupa makanan di hadapan kita, Oleh karena itu kita berdo’a:

Allahumma laka shumtu, wa’ala rizkika aftortu, wabika amantu, wazahabazhzhama’u birahmatika ya arhamar rahimiin.

Terasa lezatnya rezeki Allah di dunia ini, dan terbayang di mata kita, kita akan menerima hidangan yang lebih lezat lagi di syurga yang dijanjikan Allah swt.

  1. Kegembiraan Ketika Mengakhiri Puasa Sebulan Ditinjau Dari Dimensi Intra Personal (k3,d1)

Tibalah akhir Ramadhan, dan kita dianjurkan shalat Iedul Fitri, dan diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Kita merasa kembali ke keadaan fitrah seperti bayi baru dilahirkan. Kita merasa telah menang melawan nafsu kita, dan kita mengharap puasa kita diterima dan diberi pahala. Karena itu, di saat itu ucapan kita adalah minal ‘aidin wal faaizin, taqabbalallu minna wa minkum. Dan kita berharap dikarunia rahmat, ampunan dan itqum minan naar (terbebas dari siksa neraka). Betapa gembiranya.

  1. Kegembiraan Ketika Mengakhiri Puasa Sebulan Ditinjau Dari Dimensi Inter Personal (k3,d2)

Suasana hari itu benar-benar terasa kebersamaan silaturrahmi. Kita telah mengajak saudara kita yang du’afa, untuk bergembira dengan mengantarkan zakat fitrah dan makanan atau pakaian. Sesama kita saling memaafkan kesalahan-kesalahan kita (di Indonesia terkenal dengan istilah halal bi halal). Kita berziarah mendoakan sanak saudara kita yang telah mendahului kita. Lengkaplah sudah kegembiraan kita. Tetapi, yakinlah bahwa kegembiraan ini hanya dirasakan oleh orang yang berpuasa.

 

  1. Kegembiraan Ketika Mengakhiri Puasa Sebulan Ditinjau Dari Dimensi Religius Spiritual (k3,d3)

Pada hari itu kita menghadap Rabb kita, sambil bertakbir, tahlil, tasbih dan tahmid.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

La ilaha illa Allahu Allahu Akbar

Allahu Akbar walillahil hamd.

Lalu kita berdiri, shalat Iedul Fitri 2 rakaat, mendengarkan dan menghayati khutbah, yang mengingatkan kita untuk meningkatkan ketaqwaan dan mengingatkan kita akan perjumpaan kita dengan Allah swt.

  1. Kegembiraan Ketika Berjumpa Dengan Rabb Kita (k4,d3)

Kegembiraan ini hanya dirasakan oleh jiwa kita (d3), ketika di alam akhirat, kita melalui proses pertanggungjawaban atas hidup kita.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraa ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Alahmdulillah.  Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.   Betapa meluapnya kegembiraan kita, ketika di sana, Allah telah menanti kita untuk menyerahkan ganjaran atas puasa yang telah kita lakukan di dunia. Kemudian kita ditunjukkan pintu khusus untuk masuk kesyurga-Nya, yaitu pintu Ar-Rayyan.

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”.

Kemudian dilanjutkan dengan firmanNya.

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

“(Kepada mereka dikatakan): ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.’” (QS. Al Haqqah [69]: 24)

Rasulullah juga bersabda,

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اَلصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يَقُوْلُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ. وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ

“Puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.’ Al-Qur`an berkata, ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.

Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ

“Fitnah (kelalaian) seseorang pada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dapat dilebur dengan shalat, puasa dan sedekah.”

Tetapi, ingatlah, bahwa ini terjadi apabila puasa kita dilaksanakan dengan imanan wahtisaban, artinya didasari dengan iman dan dijaga dengan penuh kewaspadaan akan hal-hal yang membatalkan atau menghapuskan pahala puasa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta bahkan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing orang yang berpuasa jika ada seseorang yang mengajaknya bertengkar atau mencacinya, hendaknya dia mengatakan kepada orang tersebut :إِنِّي صَائِمٌ (saya sedang berpuasa).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *