PUASA: 3

 EMPAT KEGEMBIRAAN DALAM TIGA DIMENSI PERSONAL MANUSIA

MUHAMMAD SOLEH

Pengantar

Dalam rangka menyambut kehadiran bulan Ramadhan, kita dianjurkan merasa bergembira. Sebagai ungkapan kegembiraanku, aku akan membahas empat  kegembiraan ditinjau dari             tiga  dimensi personal manusia.

 Empat kegembiraan itu adalah: ketika menyambut datangnya Ramadhan, ketika berbuka puasa, ketika mengakhiri puasa sebulan Ramadhan, dan ketika berjumpa dengan Rabb pencipta kita. Sedangkan tiga dimensi personal manusia adalah                                        intra personal, inter personal dan religius spiritual.

Terima kasih Tuhanku, atas nikmat kegembiraan ini.

Part 3 of 3

  1. PENINGKATAN KUALITAS DIMENSI PERSONAL SEBAGAI DAMPAK KEGEMBIRAAN BERPUASA.

Dengan berpuasa secara gembira (dalam artian ikhlas karena didasari iman), maka akan berdampak pada peningkatan kualitas dimensi personal kita.

  1. Pada Dimensi Intra Personal (Aku), antara lain:
  1. Aku semakin yakin bahwa dengan kekuatan niat yang tulus, seberapapun kesulitan itu dapat kita lalui.
  2. Aku semakin mampu menjaga keseimbangan antara masukan makanan dan kapasitas pencernaanku.
  3. Aku semakin mampu mengendalikan nafsu kehendak yang berlebihan atau kehendak terhadap yang dilarang Allah.
  4. Aku semakin mampu mengendalikan emosi negatif dan mengubahnya menjadi positif.
  5. Aku semakin teguh memegang prinsip kebenaran, kejujuran, apapun yang menggodaku.
  6. Aku semakin sadar, bahwa hidupku sedang diawasi oleh Penciptaku.
  7. Aku semakin merasa disayangi Penciptaku.
  1. Pada Dimensi Inter Personal (Kita), antara lain:
  1. Kita merasakan saling membutuhkan satu sama lain.
  2. Kita merasakan, dalam harta kita juga ada dititipkan harta saudara kita yang berkekurangan.
  3. Kebersamaan kita dalam beribadah atau bekerja ternyata sangat menguntungkan dan menyenangkan.
  4. Kita memiliki kekuatan untuk mengatasi masalah.
  5. Kita bersinergi memproduksi sesuatu.
  6. Kita bertambah ilmu dengan saling bertukar pikiran.
  1. Pada Dimensi Religius (penghambaan kepada Pencipta Kita), antara lain:
  1. Hamba merasa dikasihi Allah swt,
  2. Hamba merasa dipelihara, diberi rezeki dan kesehatan oleh Allah swt.
  3. Hamba merasa diberi petunjuk agar selamat hidup di dunia ini oleh Allah swt.
  4. Hamba merasa ditegur bila hamba menyimpang sedikit saja, oleh Allah swt.
  5. Hamba merasa nyaman dalam berdekatan (ibadah) dengan Allah swt.
  6. Hamba merasa dijanjikan karunia nikmat yang lebih besar lagi di alam akhirat oleh Allah swt.

Peningkatan kualitas dimensi personal kita itu dirasakan manusia secara bergradasi, sesuai dengan usaha kita. Ada yang belum merasakan, ada yang sedikit merasakan, ada yang sesekali merasakan, ada yang senantiasa merasakan.

  1. PENCAPAIAN OPTIMAL DARI KUALITAS DIMENSI PERSONAL

Pencapaian optimal dari kualitas dimensi personal tersebut telah banyak dikisahkan dalam sejarah Nabi dan para Pecinta Allah swt.

  1. Pada Dimensi Intra Personal (keteguhan pribadi) antara lain:
  1. Suatu ketika Rasulullah berteduh di bawah pohon kurma. Datanglah seorang kafir merampas pedang Nabi sambil berkata: “Nyawamu di tanganku. Siapa yang akan menolongmu”.      “Allah”. Jawab Nabi.      Bergetar seluruh tubuh si kafir itu, pedangnya terjatuh, dan dia terjerembab ke bumi.

Perhatikan kondisi intra personal Nabi. Tidak ada rasa takut, karena rasa takutnya hanya kepada Allah swt

  1. Suatu ketika, terjadi duel maut antara Ali bin Abi Thalib dengan seorang musuh dalam suatu peperangan. Sang Kafir sudah jatuh terlentang, sesaat lagi Ali akan menghunjamkan pedangnya. Tiba-tiba saja Kafir itu meludahi muka Ali, dan Ali membatalkan ayunan pedangnya. Beliau malahan melepas musuh itu sambil berputar-putar di atas kudanya mengelilingi Kafir itu. Kafir itu bertanya, mengapa kau tak jadi membunuhku?  Ali menjawab, “Ketika engkau meludahiku, emosiku meluap, dan aku tidak mau membunuhmu dikarenakan emosiku”

Perhatikan, betapa kuatnya Ali memilah antara bertindak dengan nafsu atau bertindak karena Allah. Ia tidak mau bertindak dengan emosi. Maka begitu Kafir itu kembali menghina Islam, Ia langsung menebas leher Kafir itu. Subhanallah.

  1. Perhatikan lagi kisah Bilal, budak hitam dari Habasyi, yang disiksa majikannya, Umayyah karena Bilal masuk Islam.

Bilal disiksa dengan cambuk yang menghunjam tubuhnya. Bilal dengan kekuatan syahadatnya mengucapkan Ahad, Ahad, Ahad. Dicambuk lagi tak hentinya, (joke: mungkin si algojo itu mengartikan ahad =  sekali lagi). Jeda sejenak, kemudian ia dibaringkan di pasir panas yang terbakar matahari gurun, masih ditindih lagi dengan batu besar, dicambuk lagi. Kekuatan syahadat Bilal menggetarkan bibirnya mengeluarkan  suara Ahad, Ahad, Ahad.  Atraksi (doa) Bilal memancar melayang ke kepala Abu Bakar yang tergerak mendatangi tempat itu, sambil berteriak: Umayah, aku beli budakmu, berapapun kau minta tebusannya.  Allahu Akbar, Bilal bebas merdeka, ditebus Abu Bakar. Bilal lulus ujian syahadat. Selanjutnya, Allah memberikan rahmat kepadanya dengan karunia suara yang powerful dan speed control yang bagus, sehingga Bilal diangkat Nabi sebagai muazzin tidak duanya di masjid Nabawi. Begitu cintanya Bilal kepada Nabi, -ini syahadat keduanya-, setelah Nabi wafat, Bilal tidak mau lagi menjadi muazzin. Ia tidak kuat menyuarakan Asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Tangisnya tak tertahankan. Betapa dahsyatnya syahadatain bagi Bilal.

  1. Pada Dimensi Inter Personal (Kepekaan sosial), antara lain:
  1. Nabi merasa lelah sehabis dikejar dan dilempari batu oleh orang-orang Bani Thaif, karena mereka tidak suka Nabi menyeru agama Islam di kalangan mereka. Nabi berteduh di bawah pohon. Datanglah Jibril, utusan Allah, sambil berkata, “Kekasih Allah, Aku diutus Allah untuk menanyakan kepadamu, sudikah engkau bila aku angkat gunung itu dan kutimpakan kepada Bani Thaif itu yang telah menyakitimu”.

Nabi menjawab, “Jangan Jibril, mereka belum tahu benar tentang aku, dan aku berharap nantinya dari keturunan mereka akan ada yang menjadi pembela Islam yang gigih”

Subhanallah, betapa kuatnya inter  personal Nabi, yang tidak mementingkan dirinya, tetapi beliau mementingkan keturunan Bani Thaif yang akan datang.

  1. Suatu ketika, perjuangan menegakkan Islam memerlukan dana yang sangat besar, Nabi memohon kepada Allah swt, dan Allah menjawabnya dengan firman QS Al-Baqarah 02:245

من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له أضعافا كثيرة والله يقبض ويبسط وإليه ترجعون

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Dikisahkan, Abu Bakar ra langsung menyerahkan seluruh hartanya kepada Nabi, sampai-sampai Nabi bertanya, apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu? Subhanallah, Abu Bakar menjawab: “Cukuplah Allah dan Rasulnya”.

  1. Pada zaman Nabi Muhammad saw. Pernah terjadi musim kering yang menyebabkan kesulitan air. Hanya ada satu sumur yang menghasilkan air, sumur itu kepunyaan orang Yahudi. Datanglah sahabat Nabi, Utsman bin Affan ra bertransaksi membeli sumur itu. Yahudi itu mau menjual separuhnya, yakni sehari untuk Usman dan sehari untuk Yahudi, begitu seterusnya. Usman setuju. Pada hari jatahnya Utsman, dihibahkannya air itu untuk kaum muslimin. Yahudi terkecoh, dan akhirnya ia jual semua air sumur itu, dan Usman tidak memperdulikan berapa besar pengeluarannya demi kehidupan umat muslim.

Demikianlah kepekaan sosial (inter personal) yang optimal dapat mengatasi kepentingan pribadi (intra personal).

  1. Pada Dimensi Religius Spiritual, antara lain:
  1. Ummul Mu’minin, Aisyah ra, tidak tega melihat Nabi shalat malam. Air mata Nabi membasahi janggutnya, beliau berdiri terlalu lama, sehingga kakinya membengkak. Aisyah tidak tahan untuk tidak bertanya. Akhirnya ia bertanya juga. ”Mengapa Engkau terlalu berlebihan dalam beribadah, bukankah Allah sudah menjanjikan, Engkau sebagai kekasih-Nya, akan mendapat tempat yang paling mulia di sisi-Nya?”

 

Nabi menjawab, “Tidak pantaskah aku bersyukur atas limpahan rahmat-Nya?”

Perhatikan sikap religius yang dicontohkan Nabi, beribadah bukan untuk mengharapkan balasan, tetapi untuk bersyukur atas nikmat Allah yang telah kita  rasakan.  Bagi Nabi dan para Pecinta Allah swt, malahan lebih dari sekedar bersyukur, tetapi beliau ingin merasakan cinta Allah yang dahsyat.

  1. Kisah Rabiah Al-Adawiyyah juga mengharukan spiritual kita.

Puisi-puisi Sufi Rabi’ah al-Adawiyah

I
Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai

II
Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu

III
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusian-Mu,
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu

IV
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

V
Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

VI
Alangkah buruknya,
Orang yang menyembah Allah
Lantaran mengharap surga
Dan ingin diselamatkan dari api neraka

Seandainya surga dan neraka tak ada
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?

Aku menyembah Allah
Lantaran mengharap ridha-Nya
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya
Sudah cukup menggerakkan hatiku
Untuk menyembah-Mu

VII
Sulit menjelaskan apa hakikat cinta
Ia kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya orang
yang merasakan dan mengetahui
Bagaimana mungkin
Engkau dapat menggambarkan
sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang
dari hadapan-Nya, walau ujudmu
masih ada karena hatimu gembira yang
membuat lidahmu kelu

VIII
Andai cintaku
di sisimu sesuai dengan apa
yang kulihat dalam mimpi
Berarti umurku telah terlewati
Tanpa sedikit pun memberi makna

IX
Tuhan, semua yang aku dengar
di alam raya ini, dari ciptaan-Mu
Kicauan burung, desiran dedaunan
Gemericik air pancuran
Senandung burung tekukur
Sepoian angin, gelegar guruh
Dan kilat yang berkejaran
Kini
Aku pahami sebagai pertanda
atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu
dan
Sebagai kabar berita bagi manusia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *